Dosen Departemen MSP, FPIK-IPB dan Peneliti Senior PKSPL-IPB mereview Kerjasama Blue Economy antara Indonesia dan Seychelles.
Selasa, 26 November 2021.

Indonesia dan Seychelles adalah dua negara kepulauan yang memiliki kesamaan ciri di mana ekosistem laut merupakan modal sumberdaya alam terbesar. Dalam konteks tersebut, kedua negara juga memiliki kesamaan platform kebijakan yaitu Ekonomi Biru (Blue Economy). Dalam rangka memperkuat kerjasama kedua negara di bidang pembangunan Blue Economy, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan RI melalui Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan Diskusi Strategis Kerjasama Blue Economy antara Indonesia dan Seychelles yang menggusung tema : Blue Economy: Opportunities for Collaboration and Investment di Jakarta, Selasa, 26 November 2021.

Diskusi dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan melalui taping recording, kemudian sambutan diberikan pula oleh Mr. Nico Barito, Special Envoy of the President of Seychelles to ASEAN. Diskusi tersebut menampilkan 3 pembicara kunci yaitu Mr. James Alix Michelle (Former President of Seychelles), Mr. Alain St Ange (President African Tourism Board), dan Mr. Suharyanto (Director of Marine Spatial Planning, Ditjen PRL, KKP). Dalam diskusi ini, Dosen Departemen MSP, FPIK sekaligus Peneliti Senior Bidang Kebijakan Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pesisir dan Laut PKSPL, Dr. Luky Adrianto diundang sebagai reviewer.

Dalam reviewnya, Dr. Luky Adrianto menyajikan instrumen BEDI (Blue Economy Development Index) sebagai alat untuk mengukur kemajuan pembangunan ekonomi biru. Dr. Adrianto yang juga diberi kepercayaan sebagai chief scientist untuk pengembangan BEDI untuk Forum Negara-Negara Kepulauan dan Negara Pulau (AIS) menyajikan BEDI untuk Indonesia dan Seychelles di mana indeks BEDI Seychelles lebih tinggi daripada Indonesia. Hal ini dapat digunakan sebagai momentum untuk memperkuat platform Blue Economy bagi kedua negara agar BEDI dapat meningkat di kemudian hari.