Pulau-pulau kecil di Indonesia Sumber: www.batasnegeri.com

Pulau-pulau kecil memiliki karakteristik yang unik, dengan sumberdaya alam dan lahan yang terbatas, terisolasi, rentan dan skala ekonomi yang terbatas. Meskipun demikian, pulau kecil memiliki potensi yang besar dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, ekosistem mangrove, pantai, perikanan dan spesies endemic dan dilindung. Potensi tersebut yang membuat pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia banyak diarahkan menjadi destinasi wisata. Tetapi, banyak pembangunan yang cenderung tidak terkontrol dan tidak terkelola dengan baik sehingga meningkatkan tekanan dan kerentanan pulau. Selain itu, pembangunan pulau belum mempertimbangkan integrase antara darat dan laut.

Pada 13 Mei 2020, Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) yang bekerja sama dengan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK IPB dan Himpunan Alumni SPL IPB mencoba mendiskusikan isu-isu pembangunan pulau kecil dan perkembangan penelitian di pulau-pulau kecil di Indonesia dalam kegiatan Series Sharing Knowledge: Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Tropika.  Kegiatan Series Sharing Knowledge yang kedua tersebut mengambil tema diskusi Pembangunan Pulau-pulau Kecil di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Fery Kurniawan dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK IPB menyampaikan dari beberapa studi kasus pulau kecil yang diteliti menunjukkan bahwa pembangunan pulau kecil cenderung tidak seimbang. Pada kasus-kasus pulau wisata, pembangunan lebih banyak terfokus pada aspek-aspek sosial, baik infrastruktur fisik, sarana prasarana penunjuang, dan lain-lain, dan terkadang meminimalkan pembangunan aspek-aspek ekologi. Pembangunan pulau kecil lebih dominan dalam upaya meningkatkan penerimaan pendapatan daerah dengan memaksilkan jumlah kunjungan wisata, sehingga pemanfaatan yang ada berdampak pada penurunan kualitas ekologi dan lingkungan, meningkatnya konsumsi sumberdaya dan konversi lahan, yang pada akhirnya meningkatkan impor sumberdaya dan berpotensi tidak berkelanjutan. Berdasarkan pemodelan yang diujikan, disimpulkan bahwa pembangunan ekologi hendaknya menjadi domain utama. Meningkatnya kualitas lingkungan akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan objek-objek wisata yang ada.

Zulhamsyah Imran, S.Pi, M.Si, P.hD

Series Sharing Knowledge yang dimoderatori oleh Dr. Zulhamsyah Imran, Deputy Director for Administration dan staff pengajar di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK IPB, mendapat banyak perhatian dari akademisi, peneliti dan pegiat-pegiat lingkungan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Pada diskusi tersebut menilai pentingnya pembangunan yang seimbang antara ekologi dan sosial. Untuk itu pendekatan social-ecological system (SES) bisa menjadi kerangka utama. Pulau kecil tidak bisa berdiri sendiri sebagai entitas daratan, tetapi memiliki hubungan yang erat dengan perairan, serta dengan pulau-pulau di sekitarnya (berbasi gugus). Dalam hal ini, dibutuhkan kebijakan yang mampu memayungi keduanya. Selain itu, Indonesia butuh cetak biru pembangunan pulau kecil yang mampu menjadi dasar dan arah pembangunan.

Sebagai negara kepulauan terbesar, maka hal ini menjadi tantangan besar bersama. Dibutuhkan pembangunan yang terintegrasi dan upaya-upaya bersama yang sinergi. Membangun kemandirian pulau melalui penguatan sumberdaya lokal pulau harus dilakukan sebagai penyelamatan pulau kecil dalam rangka memperkuat ekonomi masyarakat. Adanya ruang-ruang diskusi ini diharapkan mampu memperkuat keilmuan tentang pengelolaan pulau-pulau kecil dan membangkitkan kesadaran tentang pentingnya pulau-pulau kecil terhadap pembangunan di Indonesia.