Indonesia memiliki potensi benih ikan sidat (Anguilla spp) yang luar biasa tapi pemanfaatannya sangat rendah. Daging ikan sidat banyak mengandung lemak tidak jenuh yang kaya akan EPA dan DHA, selain itu kadar vitamin A dan kandungan energinya juga tinggi. Mengkonsumsi ikan sidat dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Ikan sidat banyak dikonsumsi di negara-negara Asia Timur (Jepang, Taiwan, China daratan, Korea dan Hongkong). Bahkan negara-negara Eropa seperti Italia, Jerman, Belanda, Perancis serta Amerika juga mengkonsumsi ikan sidat. Jepang adalah negara konsumen terbesar yakni sekitar 130 ribu ton per tahun dari sekira 250 ribu ton ikan sidat yang diperdagangkan di dunia.

Saat ini negara-negara pengekspor ikan sidat mengalami penurunan tangkapan benih sehingga produksi turun. Selama ini benih yang dibudidayakan adalah hasil tangkapan alam. Produksi ikan sidat di Jepang turun hingga 60 persen.

“Mereka mencari sumber benih baru yakni sidat tropis. Indonesia saat ini menjadi sasaran sumber benih sidat tropis,“ ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), Prof. Dr. Ir. Ridwan Affandi saat konferensi pers pra orasi Ilmiah Guru Besar di Kampus IPB Baranangsiang Bogor (3/12).

Akibatnya harga benih ikan sidat melonjak. Sebelum terjadi penurunan produksi, dari harga semula 200 ribu rupiah menjadi 1,5-3,5 juta rupiah per kilogram glass eel-nya (2013). Tingginya harga dan permintaan benih mendorong para penangkap glass eel melipatgandakan upaya penangkapannya. Bila dibiarkan akan mengancam kelestarian ikan sidat di Indonesia.

“Bagi Jepang angka ini sangat murah. Sehingga banyak yang menyelundupkan benih ikan sidat ke luar Indonesia. Sebagai antisipasi, Indonesia melarang ekspor benih ikan sidat melalui Peraturan Menteri yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perdagangan RI,” terangnya.

Adanya larangan ini seyogyanya benih yang tersedia bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya agar produksi sidat Indonesia meningkat. Disamping itu, konsumsi ikan sidat di Indonesia juga harus dipacu agar ikan yang bergizi tinggi ini dapat dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia.

Ikan sidat adalah sumberdaya yang dapat pulih namun rentan punah. Dapat pulih karena ikan ini mampu berkembang biak dengan jumlah telur yang banyak (satu ekor induk mampu menghasilkan 1,5-3 juta telur). Rentan punah karena masa kritisnya (fase larva) sangat panjang (4-6 bulan) dan perjalanan ruaya-nya jauh (400-1500 km). Disamping itu ancaman terhadap kelangsungan hidupnya beragam.

Menurut Prof. Ridwan, ada beberapa upaya yang harus dilakukan untuk menyukseskan budidaya ikan sidat di Indonesia. Upaya tersebut diantaranya mengawal peraturan larangan ekspor, mengendalikan penangkapan benih dan sidat dewasa, pelarangan menggunakan alat tangkap yang berbahaya, melakukan restocking benih sidat (2-20 gram) di perairan yang populasinya sudah menurun, melepas induk sidat yang siap beruaya di muara/estuari, melarang pembuangan limbah di perairan habitat ikan sidat. Upaya lainnya adalah menetapkan bagian dari aliran sungai untuk dijadikan tempat perlindungan ikan sidat, menata kondisi muara sungai agar kondusif, menata penggunaan lahan dan menjaga hutan lindung. “Yang paling penting adalah membuat tangga ikan (fish way) di pinggiran bangunan irigasi atau bendungan agar ikan sidat dapat melakukan ruaya ke arah hulu dan sebaliknya,” tandasnya. (zul)

Sumber: http://ipbmag.ipb.ac.id/orasiilmiah/ee3ac357c52c65c904a782da3ca345c8/Guru-Besar-IPB-Sidat-Terkenal-di-Asia-Tidak-Terkenal-di-Indonesia