Penulis: Dr. Yonvitner

WAJAH dunia seperti tengah berevolusi menuju sebuah tatanan baru karena pengaruh tiga hal, yaitu globalisasi, informasi, dan pandemi covid-19. Adalahglobalisasi dan informasi teknologi yang menjadi agen mempercepat perubahan itu.

Globalisasi bagi negara-negara rentan sangatlah tidak menguntungkan karena hanya akan menjadi ruang eksploitasi negara mapan. Termasuk Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam hayati dan mineral harus rela kekayaan alamnya dikeruk hanya untuk mendapatkan dolar dan euro atau yuan.

Orang tinggal mengatur kendali ekonomi dengan mencetak uang berupa dolar, dan kita babak belur mulai berproduksi yang disediakan alam sampai untuk mendapatkan dolar dengan dalih ekspor. Negara pemilik alat transaksi dunia kemudian menjadi pengendali dunia. Negara lain, sekaya apa pun, menjadi tidak bernilai ketika mainstreaming ekonomi dunia ditumpukan pada alat tukar global ini sehingga apa pun yang kita hasilkan seolah menjadi tidak berharga apabila tidak bernilai dolar.

Selain ketergantungan uang, globalisasi menyulut ketergantungan ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan standar hidup dan kesehatan. Persebaran virus korona ke seluruh dunia adalah bagian dari globalisasi dan pergerakan manusia yang serbacepat, murah, dan mudah. Kembali lagi, negara yang tidak siap dan rentan menjadi objek yang selalu tidak diuntungkan.

Selain globalisasi, ternyata informasi mempercepat terjadinya perubahan (evolusi) menuju tatanan dunia baru. Sebagai sebuah revolusi wajah dunia berubah dari sebuah sistem mekanistik menjadi elektronik. Dunia dengan teknologinya sedang menggiring manusia menuju sebuah peradaban baru. Sebagian orang menyebut sebagai kenormalan baru. Namun, sebenarnya, tatanan hidup baru yang di-drive covid-19 dan teknologi informasi.Pandemi covid-19 juga telah mendorong manusia dari kebiasaan bebas menjadi terbatas dalam banyak hal. Semangat berperang melawan covid-19 tidak muncul serempak seperti saat perang merebut kemerdekaan. Musuh yang ada di hadapan kita bukan hanya sebuah virus, melainkan juga diri kita sendiri. Perlu ilmu pengetahuan untuk mengerti pandemi covid-19 jika ingin sustain dalam jangka panjang. Di tengah dorongan ketiga faktor di atas, kita terus dituntut mencari cara beradaptasi agar bisa sustain dalam jangka panjang. Seperti sebuah seleksi alam, ilmu pengetahuan turut menambah imun kita untuk siap dan bertarung selamat dalam seleksi covid-19. Selain kemenangan individu, sebenarnya yang turut diperjuangkan adalah kemenangan sebagai bangsa.Sangat mudah dicerna siapa sebenarnya akan jadi pemenang dalam perubahan yang tengah terjadi ini. Sebuah video pendek durasi 1,5 menit menayangkan bahwa pusat-pusat perkumpulan manusia akan menjadi sepi dan bangkrut. Urusan bisnis akan menjadi bangkrut, seperti hotel, bandara, termasuk perguruan tinggi.

Seperti sebuah revolusi yang sudah dipersiapkan, bahwa keberadaan informasi teknologi akan menjadi penggiring semua aktivitas manusia ke dalam dunia baru itu. Dunia maya, virtual, dengan informasi dan teknologi yang dianggap paling canggih saat ini menjadi pilihan dunia.

Google effect

Bersamaan dengan itu, kampus-kampus dunia turut beradaptasi secara cepat dengan dunia virtual itu. Gedung besar, tinggi, penuh sejarah seakan menjadi monumen sejarah pendidikan karena ketiadaan mahasiswa. Bahkan sekarang, tidak sedikit kampus juga berevolusi menjadi online university.

Kampus online yang mempertemukan informasi, pengetahuan, teknologi menjadi pilihan di tengah perjuangan untuk bertahan. Pemilik jaringan online dan mesin pencari yang merekam setiap data manusia menjadi perpustakaan terbesar dunia yang bisa diandalkan sebagai ruang publik untuk universitas baru.

Dipercaya atau tidak, kita semua sama-sama masuk dunia pendidikan yang sebagian besar dikendalikan Google. Ruang meeting kita menggunakan Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya yang mudah diakses. Bahkan materi kuliah, hasil riset, publikasi ilmiah sudah terpajang pada jendela Google. Berbekal sistem perangkingan universitas, kekaryaan dosen dan mahasiswa terpajang dalam Google Scholar. Orang kini merasa hebat apabila mendapat pengakuan dari Google karena scopus dan H index. Jika kita mau jujur, mungkin semua universitas kita sudah ada dalam kendali Google. Google menjadi mega university yang mengendalikan sebagian besar universitas di dunia. Kampus yang dirancang online, tatap muka secara virtual, menjadi pelipur lara saat pandemi covid-19.

Disadari atau tidak, covid-19 sudah menjadi perekat kuat kampus dengan sistem online. Kedigdayaan Google atas data, informasi, yang saat ini kita hadapi adalah bagian dari tirani baru bernama bisnis informasi. Universitas kita dengan sukarela menjadi penyedia data bagi sebuah big data yang sebenarnya adalah sebuah bisnis. Terus bagaimana seharusnya perguruan tinggi kita untuk mandiri dan bersaing? Bisa dipahami ketika Tiongkok tidak menerima Google dan merancang big data sendiri adalah bagian dari kedaulatan data dan bangsa mereka.

Walaupun terasa lemah, penulis berpikiran masih ada yang bisa kita lakukan untuk tetap tegak berdaulatnya kampus kita. Tiga langkah yang bisa kita lakukan saat ini, pertama, perkuat big data university, kedua bangun pendidikan berkebudayaan, dan ketiga memastikan kampus sebagai pusat sains dan pembangunan serta peradaban.

Kampus baru

Pertama penting untuk memastikan bahwa setiap kampus kita harus terkoneksi dalam sebuah national big data pendidikan dan pengetahuan. Kementerian pendidikan bukan hanya soal administrasi pendidikan karena ada ideologi dan gagasan akhir pendidikan yang harus dicapai untuk kebutuhan bangsa.

Untuk itu, data dosen, data mahasiswa, data riset dan publikasi, data teknologi, inovasi, dan masyarakat penerima adalah data yang harus dikelola. Selain itu lebih jauh lagi, big data university menjadi big data biodiversity kita karena bisnis teknologi 4.0 adalah informasi.

Dengan mengelola data sendiri, kita terhindar dari invasi data dan informasi melalui teknologi 4.0. Kedua menyiapkan pendidikan berkebudayaan yang menjadi kekhasan bangsa Indonesia. Pendidikan tidak hanya menyalurkan informasi, pengetahuan, dan teknologi, tetapi nilai, norma, dan budaya.

Selain bangsa yang kaya dengan biodiversity, kita juga mega socio-culture diversity. Untuk itu, pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang berciri akar budaya bangsa. Pendidikan yang dijiwai nilai kebersamaan, empati, kemanusiaan.

Ekspresi dari nilai itu pada masyarakat mega sociocultural melahirkan diversity social sehingga keberagaman tidak tercerabut. Merawat keberagaman sociocultural harus diajarkan kepada generasi muda kita.

Diperkenalkan untuk dijiwai dan didalami, bukan sekadar dihafal. Untuk itu, pendidikan kita harus tampil berbeda dari pendidikan yang diajarkan media sosial. Menjadi bagian dari evolusi teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan.

Namun, yang paling penting adalah menjadikan teknologi informasi sebagai alat perekat yang menjadikan kita sebagai satu kekuatan. Untuk itu, keberadaan big data pendidikan, SDM andal, dan kebijakan yang menguatkan diperlukan bagi PT Indonesia untuk maju, mandiri, berkarakter. Tugas utama adalah ikut sebagai pengendali dan bukan follower dari VUCA (volatility, uncertainty, complexcity, and ambiquity).

Walaupun kita menjadi salah satu pengguna Google, kita lantas terjerembap dengan menyerahkan data kita tanpa syarat ke dalam big IG data informasi itu.

Ketiga, yang harus dilakukan, memastikan kampus sebagai pusat sains ilmu pengetahuan dan teknologi. Sains harus punya media, proses treatment dan langkah adaptasi menjadi inovasi dan policy. Kecerdasan mungkin instan, tetapi kecerdikan perlu asahan.

Untuk itu, kampus tetap ditempatkan sebagai ruang perpaduan informasi menjadi ilmu yang berkebudayaan. Tidak lantas peran pendidikan tergantikan media online karena sesungguhnya media online hanyalah sebuah infrastruktur pendidikan, bukan pengendali.

Kita tidak mau kampus terjerembap dalam arus globalisasi informasi yang mendistorsi peran kampus dan menggatakan semua kebutuhan kampus sudah ada di Google dan Youtube. Itu bisa berdampak kampus menjadi terkotak dalam ruang kecil yang dianggap cukup apabila bisa membuat orang memiliki keahlian tertentu.

Bukan downsizing kampus yang kita persiapkan, melainkan transformasi manajemen kampus dan pendidikan kita yang diperlukan dengan mengelola RI 4.0, menuju masyarakat 5.0 menuju kampus baru. Dengan demikian, universitas kita tetap bercorak Indonesia dan tetap dikendalikan untuk kepentingan bangsa dan dikelola oleh anak bangsa.

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/read/detail/319808-bukan-downsizing-university