Peringati Hari Kepiting Tapal Kuda, Departemen MSP IPB University Gelar Simposium Internasional

Studi mengenai distribusi dan populasi terkini Horseshoe Crab atau Kepiting Tapal Kuda sedang menjadi sorotan di kalangan akademisi. Untuk itu, dalam rangka memperingati Horseshoe Crab Day (20 Juni) yang ditetapkan oleh The International Union for Conservation of Nature (IUCN), Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University menggelar Symposium Internasional, (19/6).

Dalam simposium ini, hadir pakar Kepiting Tapal Kuda dari berbagai negara. Di antaranya, Dr Akbar John dari International University Malaysia, Dr Qian Tang dari National University of Singapore, Dr Jay Ming-Che Yang dari Academia Sinica Taiwan, Prof Hui Ho Lam Jerome dari The Chinese University of Hongkong, Naila Khuril Aini SPi, MSi, mahasiswa program doktor IPB University, Dr Gobinda Chandra Biswal dari Siddheswar College India dan Prof Dr Yusli Wardiatno, dosen IPB University yang merupakan Guru Besar Departemen MSP sebagai Symposium Chairman.

Ketua Departemen MSP IPB University, Dr Majariana Krisanti dalam sambutannya mengatakan, “Pada momen ini saya ingin mengungkapkan hal penting untuk kita semua berkaitan dengan mandat berdasarkan deklarasi di Guangxi, China tahun lalu. Dimana saya berharap dapat mengingatkan kita semua untuk terus bersemangat dalam upaya menjaga Kepiting Tapal Kuda di seluruh dunia.”

Pada kesempatan ini, Dr Akbar John menjelaskan bahwa distribusi dan populasi Kepiting Tapal Kuda ini menurun dari tahun 2010-2020 karena permintaan pasar yang tinggi. Sebagian besar populasinya pun hanya berpusat di daerah Malaysia bagian timur dengan mencakup tiga spesies yaitu Tachypleus tridentatus, T. gigas, dan C. rotundicauda.  

“Studi yang dilakukan terhadap spesies tersebut pun sebagian besar mengenai dinamika populasi dan sifat abundansinya. Kendala riset yang dialami oleh peneliti Malaysia adalah pendanaan dan sulitnya menemukan metode standar yang dapat menentukan jumlah populasinya di alam liar secara tepat. Proyek reklamasi Malacca dan tak adanya perlindungan hukum semakin menekan angka populasi dari kepiting tersebut,” ujarnya.

Sementara Dr Qian Tang membahas mengenai kaitan antara populasi dua spesies Kepiting Tapal Kuda di Singapura dengan Holocene Sea Level. Ia mengambil 300 sampel individu dari seluruh wilayah Singapura dan menggunakan metode autokorelasi spasial dan resistance mapping untuk mengetahui kapabilitas dispersinya serta mengkalkulasi heterozigositas dan ukuran populasi efektif untuk mengetahui diversitas genetiknya. Dr Qian menemukan bahwa populasi spesies C. rotundicauda menurun bila terjadi kenaikan permukaan laut. Sedangkan pada spesies T. gigas sebaliknya, walaupun tetap bergantung pada dinamika habitat dan gangguan manusia.

Dr Jay Ming-Che Yang membahas mengenai konektivitas konservasi dari Kepiting Tapal Kuda di wilayah Asia. Menurut penelitiannya, panen yang berlebihan terhadap kepiting tersebut untuk kebutuhan medis dan pangan serta pembangunan di sepanjang pesisir habitat kepiting tersebut berkontribusi besar dalam penurunan populasinya. Hal tersebut juga menurunkan diversitas genetik sehingga konektivitas genetik dari beberapa spesies Kepiting Tapal Kuda pada populasi yang terisolasi akibat dari aktivitas manusia. Cara untuk menanggulanginya adalah dengan melakukan konservasi berbasis komunitas serta mengurangi sampah laut.

“Bila kita tidak segera menelusuri database DNA awal dari kepiting tersebut, maka diversitas genetiknya akan terus menurun dan menyebabkan kepunahan lokal. Contohnya pada daerah pesisir barat Taiwan. Namun, metode z-survey yang saya lakukan tahun 2019 menemukan kembali 13 ekor kepiting muda,” terangnya.

Prof Hui Ho Lam Jerome membahas mengenai asal-usul atau ancestor serta populasi genomik dari tiga spesies Kepiting Tapal Kuda di wilayah mangrove melalui deteksi eDNA. Analisis tersebut melibatkan gen family, microRNA, serta sintaksis dari kepiting tersebut. 

Sementara Naila Khuril Aini membahas mengenai evaluasi morfologi dan variasi genetik dari Kepiting Tapal Kuda dengan mengambil sampel dari tiga spesies Kepiting Tapal Kuda dengan jumlah terbesar di pulau Jawa yaitu T. gigas, T. tridentatus dan C. rotundicauda. Hasil risetnya menemukan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, ciri morfologi yang ditemukan pada T. tridentatus berubah, dari tulang belakang yang berjumlah tiga atau satu menjadi satu saja dan jumlah populasinya yang ditemukan semakin menurun. 

“Jumlah tulang belakang kecil pada ophistoma dapat dijadikan kunci identifikasi agar menghindari perburuan Kepiting Tapal Kuda yang berstatus rawan punah. Hasil variasi genetik yang ditemukan pada interpopulasi tinggi sedangkan pada intrapopulasi sedang. Jarak genetik pada spesies T. dan C. rotundicauda  di daerah Demak dan Madura pun lebih dekat daripada di daerah Balikpapan,” ujarnya.

Dr Gobinda Chandra Biswal membahas  mengenai abnormalitas dari Kepiting Tapal Kuda di India. Umumnya abnormalitas ini ditandai dengan perubahan pada eksoskeletal dari kepiting tersebut yang dapat disebabkan oleh luka, predasi, aktivitas perkawinan maupun genetik. Risetnya mengambil sampel karapas kepiting tersebut dari daerah Kankadapal hingga pesisir timur Odisha. Dr Gobinda menemukan bahwa sebagian besar abnormalitas berada pada bentuk telson yang berubah menjadi bengkok ataupun deformitas prosomal. Abnormalitas pada embrio juga dapat terjadi akibat kadar logam berat yang tinggi. Adapun penyebab pasti dari abnormalitas tersebut belum dapat ditentukan. (MW/Zul)

 

Published Date : 19-Jun-2020
Narasumber : Dr Akbar John
Kata kunci : Kepiting Tapal Kuda, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, IPB University, dosen IPB

Sumber: https://ipb.ac.id/news/index/2020/06/peringati-hari-kepiting-tapal-kuda-departemen-msp-ipb-university-gelar-simposium-internasional/423947019fa05deeaa316db5a395e484