Danau di dalam lingkungan Kampus IPB Dramaga Bogor. (Sumber: bogor-kita.com)

Biodiversity is our most valuable but least appreciated resource”–Edward O. Wilson (Ahli Biologi dan Lingkungan asal Amerika)

Belakangan ini isu biodiversitas banyak berkembang dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Biodiversitas sendiri dapat dimaknai sebagai gambaran tentang keanekaragaman relatif organisme di antara organisme yang ada dalam suatu ekosistem. Biodiversitas sangatlah penting karena menjadi salah satu penyedia sumber daya alam terbesar. Selain itu biodiversitas juga turut andil sebagai penyedia barang dan jasa, penjaga kestabilan ekosistem, serta mengandung nilai estetika dan filosofi.

Tiga hal yang harus dilihat dalam kajian biodiversitas adalah biodiversitas genetik, biodiversitas spesies, dan biodiversitas ekosistem. Sayangnya sejauh ini sekitar 86% dari spesies yang ada di bumi masih belum teridentifikasi. Sehingga upaya dalam melakukan kajian biodiversitas menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Di sisi lain, biodiversitas menghadapi ancaman kepunahan dari beberapa aspek. Mulai dari destruktif habitat oleh aktivitas manusia, kerusakan alami sebagai bagian dari proses evolusi, terjadinya over eksploitasi, hingga akibat lain yang diterima secara tidak langsung dari kegiatan pertanian, pencemaran, maupun rekreasi.

Kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan adalah sudah sejauh mana kajian biodiversitas di dalam lingkungan kampus IPB yang telah mencanangkan diri sebagai kampus biodiversitas?

Prof. Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phill

Minggu, 10 Mei 2020 melalui diskusi daring telah dilaksanakan 2nd series of ERC (Environmental Research Center) IPB Webinar hasil kolaborasi antara ATLANTIK (kelompok studi dan pemerhati lingkungan perairan Himasper FPIK IPB) dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH IPB) yang mengangkat tema “Bedah Buku Biodiversitas Situ Leutik IPB”. Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK IPB sekaligus Kepala PPLH IPB, Prof. Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phil menjadi pembicara utama di acara tersebut. Webinar ini turut dihadiri oleh dua pembicara lainnya sebagai reviewer yakni Prof. Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc. (Peneliti Senior Benthic Ecology Departemen MSP FPIK IPB dan PPLH IPB) dan Dr. Ir. Rita Rostika, M.Si. (Kepala Program Studi Perikanan Kampus Pangandaran dan Kepala Pusat Studi Pembangunan Perikanan UNPAD).

Prof. Hefni menyampaikan tiga hal utama dalam kesempatan kali ini, pertama mengenai pentingnya biodiversitas sebagai penunjang kebutuhan hingga keseimbangan ekosistem. Kedua biosphere yang menjadi ruang bagi semua makhluk hidup untuk dapat berkembang biak dengan optimum. Ketiga Aquatic Biodiversity yang tidak hanya melibatkan komponen biotik dan abiotik perariran, tetapi juga mempengaruhi kehidupan hewan lain yang berasosiasi dengan lingkungan perairan. Selain tiga hal di atas, Prof Hefni turut berterima kasih atas keterlibatan seluruh peserta webinar bedah buku ini. Harapannya melalui adanya webinar serta publikasi buku Biodiversitas Situ Leutik IPB, dapat meng-influence ‘memberi pengaruh’ kepada pembuat keputusan di lingkungan terkait.

Buku Biodiversitas Situ Leutik IPB nantinya akan dipublikasikan dalam bentuk cetak maupun digital. Melalui buku ini diharapkan adanya peningkatan kesadaran melalui deseminasi pengetahuan tentang perlunya menjaga kelestarian biodiversitas danau/situ, serta menghimbau pengembalian fungsi danau/situ yang tidak terawat maupun yang telah beralih fungsi.

Prof.Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc

Prof. Yusli turut menyampaikan bahwa selain bermanfaat bagi flora dan fauna air, biodiversitas air tawar dapat menjadi penjaga perubahan iklim. Namun hal tersebut hanya akan tercapai jika dilakukan monitoring setiap tahunnya. Selain itu kajian biodiversitas Situ Leutik IPB juga dapat memantau keberadaan spesies asing maupun spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem di dalamnya. Terakhir, Prof. Yusli menambahkan bahwa keberadaan biodiversitas harus dimaknai dengan baik agar keseimbangan ekosistem dapat terus terjaga.

Selain pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di Situ Leutik IPB, peran akuakultur juga dapat dimunculkan sebagai bagian dari pemanfaatan sumber daya. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Rita dalam kesempatan bedah buku kali ini. Kegiatan akuakultur yang tepat untuk lingkungan Situ Leutik IPB adalah berupa Culture Based Fisheries (CBF). CBF sendiri adalah kegiatan perikanan tangkap yang mana hasil tangkapan berasal dari benih ikan budidaya yang ditebar ke dalam badan air. Penebaran dan penangkapan dilakukan secara rutin dan berkala, karena benih yang ditebar hanya dibiarkan untuk tumbuh dan tidak diharapkan hingga berkembang biak. Selain itu untuk mencapai keberhasilan upaya pemanfaatan Situ Leutik, Dr. Rita menyarankan pengadopsian Pentahelix Collaboration yang melibatkan akademisi, pebisnis, pemerintah/pembuat kebijakan, komunitas, serta media. Opsi lain yang dapat dijadikan sebagai upaya pemanfaatan Situ Leutik IPB adalah dengan pengadaan kegiatan rekreasi, namun dengan tetap berpegangan pada nilai-nilai kelestarian lingkungan.

Kata kunci: biodiversitas, kampus biodiversitas, Situ Leutik IPB

Link video klik di sini