Sabtu 6 juni 2020 departmen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University adakan webinar series dengan tema Implementasi peningkatan kinerja pengelolaan perikanan perairan darat di RI pasca dikeluarkannya Permen KP no.9/2020 tentang WPPNRI PD. Webinar yang diadakan lewat aplikasi zoom dan disiarkan di chanel yotube MSP ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai daerah maupun instansi. Hadir sebagai pembicara yaitu Trian Yunanda SPi MSc Direktur SDI DJPT KKP, Prof Dr Ir Sulistiono MSc dari Departemen MSP FPIK IPB, Dr Arif Wibowo SP MSi kepala BRPPUPP Palembang serta Prof (Ris) Dr Ir Sonny Koeshendrajana MSc. Serta pembahas Dr Ir M Mukhlis Kamal MSc dan Dr Taryono SPi MSi keduanya dari MSP FPIK IPB.

Dalam paparanya Dir SDI KKP memaparkan Indonesia memiliki luasan sebesar 54 juta hektar perairan darat dimana yang termanfaatkan terdiri dari 12 juta ha sungai dan rawa, 1,8 juta ha danau, 0,05 juta ha waduk, 0,65 juta ha genangan air lainnya sementara 39,5 juta ha belum termanfaatkan. Trian biasa dipanggil untuk beliau menjelaskan bahwa terdapat sekitar 3 juta ton peluang perikanan tangkap perairan darat. “Ini another sleeping giant, terdapat 1400 jenis ada 18 jenis sidat juga ikan hias seperti ikan arwana, botia, cupang dan pelangi selain itu juga kuliner khas seperti pempek sebagainya,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa produksi perikanan tangkap perairan darat sekitar 500 ribu ton pertahun, sementara ekspornya hampir 327 ribu ton pada tahun 2017. Jika dihitung sebanyak 120 ribu ton dikonsumsi dan sebagian besar di ekspor. Angka produksi ini diduga lebih besar 2-7 kali lipat dari produksi sebenarnya.

“Potensi ini sejalan dengan asumsi peningkatan pangan, dari 2019 sampai 2045 ada asumsi kenaikan laju jumlah penduduk sebesar 0,6 persen dengan 318 juta penduduk ini tentu ada kebutuhan pangan sekitar 16 juta ton. Potensi ini harus digarap, kalau dari laut sekitar 7,6 juta ton tentunya masih ada sekitar 9 juta ton lebih yang harus difikirkan, mungkin dari budidaya ataupun lainnya,” jelasnya.

Prof Sulistiono memaparkan bahwa terjadi penurunan keanekaragaman spesies perikanan perairan darat di Indonesia. “Pada daerah Sumatera misalnya hampir semua yang diteliti oleh Robert 1993, keanekaragamannya sekarang itu rata-rata 40-50%, jadi kalau dari 200 menjadi sekitar 50 spesies bisa dibayangkan berapa spesies yang hilang. Di Jawa lebih riskan lagi dari 70 spesies dari 10-15 peneliti yang saya monitor hasil penelitiannya itu tidak ada yang menemukan diatas 50 jenis ikan di perairan tawar Jawa,” tuturnya.

Keanekaragaman yang menurun menjadi tanda tanya. Ikan introduksi yang masuk ke perairan diduga menjadi penyebabnya namun masih diperlukan penelitian. “Sulawesi terutama danau Matano dan Towuti yang menjadi laboratorium dunia internasional tentang ikan air tawar, ikan introduksi disana sudah mengalahkan ikan-ikan asli. Bahkan yang banyak jenis mujaer dan ditemukan juga sejenis louhan. Sudah waktunya untuk memikirkan bagaimana melestarikan ikan-ikan asli,” ungkapnya.

Menurutnya tiap-tiap wilayah memiliki keunggulan ikan, di Sumatera misalnya ada ikan semah, jurung dan belida. Ikan semah dan jurung yang harganya 1 kg mencapai 750 ribu rupiah diekspor dari Sumatera yaitu Jambi. “Ikan jurung dan semah ini peluang bagi dinas perikanan dan kelautan untuk meningkatkan produksi selain dari nila dan mas. Di Jawa ada tawes, tombro, tor dan lele, di Kalimantan ada arwana, pupuyu dan gabus di Sulawesi ada kelompok rainbow, thelmaterina serta sidat begitu juga di Maluku dan papua ada jenis unggulannya,” ujarnya.

Sementara itu Dr Arif Wibowo menyampaikan seputar peluang riset tentang perikanan perairan darat di Indonesia. Menurutnya aktifitas riset di BRPPUPP memperhatikan 3 aspek penting yaitu kajian stok, suaka perikanan dan fish passage. “Pada kajian stok kami coba publikasi tentang environmental DNA, kita coba mendeteksi ikan-ikan invasif dan juga ikan lokal,” tuturnnya. Selanjutnya pada suaka perikanan ia menjelaskan pengembangan sylvo fisheries patra tani bekerjasama dengan kehutanan.

“Sylva (ini cek sylvo atau sylva?) fisheries kita buat dengan konsep Speectra (special area for conservation and fish refugia). Dalam pendekatan ini habitatnya kita modifikasi dengan tanaman kehutanan, terdapat cekungan, dikelilingi tembok dari bambu dan kita buatkan saluran ke sungai utama. Pada cekungan itu kita taruh semua freshwater biodiversity, ketika musim hujan ikan memijah dan anakannya akan keluar ke aliran sungai menjaga biodiversitas,” ungkapnya. Ia menambahkan “Yang ketiga adalah fish passage, kita mengembangkan translating fish passage untuk menjadi kebijakan, intinya adalah bagaimana kedepannya setiap pembangunan bendungan, irigasi harus dilengkapi dengan fishway. Seperti apa membuatnya, dimana posisinya ini menjadi konsen kami”, jelasnya.

Prof Sonny menuturkan bahwa pengelolaan perikanan bertujuan untuk keberlanjutan bersamaan dengan manfaat ekonomi, kelestarian sumberdaya serta aspek sosial harus berjalan seimbang. “Pendekatan ekosistem secara parsial telah kita lakukan, pendekatan ekosistem itu harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem, interaksi ekologis antara sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga, perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan”, jelasnya.

Menurutnya, EAFM (ekosistem approach to fisheries management) yang dikeluarkan oleh FAO menjadi dasar dalam pengelolaan perikanan perairan darat dengan pendekatan ekosistem. Kunci pemahaman EAFM adalah perhatian terhadap konektivitas antar komponen ekosistem (termasuk manusia) yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh spesies target sebagai obyek dari pengelolaan perikanan. EAFM adalah pendekatan holistic dari pengelolaan perikanan yang melibatkan seluruh system social-ekologis.

“Pendorong bagi kita untuk menerapkan EAFM ialah banyaknya kegagalan dalam pelaksanaan manajemen konvensional, meningkatnya pemahaman adanya interaksi yang kuat antar sumberdaya ikan serta interaksi antara sumberdaya ikan dengan lingkungannya, banyaknya good and services dari sumberdaya ikan dan ekosistem bagi manusia dan perlu dijaga agar berkelanjutan juga meningkatnya pemahaman akn fungsi ekosistem bagi manusia”, tandasnya.

Program yang di inisiasi MSP FPIK IPB ini juga adalah bagian dari upaya perlindungan dan pelsetarian ekosistem tereterial dimana didalamnya termasuk freshwater ecosystem protection sesuai SDG15. Penguatan knowledge menjadi bagian penting dalam pelestarian untuk generasi yang akan datang.

Kesimpulan dalam acara ini yaitu dalam mengimplementasikan Permen KP no.9/2020 tentang WPPNRI PD ini diperlukan strategi-strategi yang memiliki luaran memberikan nilai ekonomi ketika dilakukan pengelolaan, menjaga kelestarian sumberdaya ikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian perlu adanya kerjasama lintas instansi agar penerapan permen ini dapat memberikan manfat sesuai tujuan pembuatannya.

Download Materi di sini