Pakar MSP: Science-Policy-Economy Untuk Hiu Paus

Wisata Hiu Paus Gorontalo.(gatra.com/Adi WIjaya)

Pertumbuhan ekowisata pada dekade terakhir ini mengalami kenaikan drastis sebelum pandemik covid19. Begitu juga tren wisata laut pun meningkat tajam, yang awalnya hanya wisata pantai atau berenang, kini merambah pada segmen keindahan alam bawah laut. Snorkling dan menyelam sudah jamak dilakukan, kini mulai berkembang yaitu wisata hiu paus. Ukuran hiu paus yang besar dan karakter dewasa yang “tidak takut” mendekati manusia, menjadi suatu hal menarik bagi pengunjung. Ditengah suasana itu, namun sampai saat ini belum ada aturan khusus bahkan Prosedur Operasinal Baku (POB) terkait ekowisata hiu paus ini.

Sejatinya, secara biologi, hewan ini memiliki sedikit keturunan dan lama mencapai ukuran dewasa (4-6 meter) bahkan saat ini telah masuk dalam daftar merah IUCN dengan kategori Endangered (Genting atau Terancam). Terlebih kekhawatiran akan adanya ancaman yang tinggi karena masuk dalam Apendix II CITES yang berarti spesies ini masih boleh diperdagangkan. Beruntungnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan melindungi hiu paus (Rhincodon typus) melalui KEPMEN-KP No 18 Tahun 2013. Kekosongan POB sebagai pedoman melakukan ekowisata, menyulut akademisi maupun pemaku kepentingan untuk segera merumuskannya.  Pada saat yang sama keresahan terhadap keberadaan sumberdaya yang akan terganggu dan keselamatan wisatawan yang terancam. Tata kelola riset dan ekowisata hiu paus harus menjadi bagian terintegrasi dalam kebijakan pengembangan kelautan.

Dr. Ir. Mohammad Mukhlis Kamal, M.Sc

Lebih lanjut, Rabu tanggal 7 Mei 2020 dilaksanakan Online Sharing Session yang bertemakan “Mengenal Potensi Wisata Hiu Paus” dengan Topik: Kajian Ekobiologi dan Pemanfaatan Berkelanjutan Kegiatan Wisata Berbasis Hiu Paus di Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih menghadirkan dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan sekaligus ketua Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Perairan (SDP), Dr Ir Mohammad Mukhlis Kamal MSc sebagai pembicara kunci.  Dr  Mukhlis Kamal memaparkan perlunya penerapan Road Map penelitian hiu paus di Indonesia yang dimulai dari tahun 2014-2016.  Komponen penting yang dikenali dari riset hiu paus seperti frekuensi kemunculan, kondisi habitat, dan struktur populasi menjadi penting.  Kemudian tahun 2016-2018 riset lanjut mengenai struktur populasi, tingkah laku, dan daya dukung wisata. Pada tahun 2018-2020 dikenalkan SOP interaksi, dan monitoring populasi.

Diskusi menjadi lebih menarik dengan hadirnya beberapa peneliti hiu paus yang merupakan alumni program studi magister Penglolaan Sumberdaya Perairan (SDP) dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL). Sampari Suruan MSi,  Alosius Numberi MSi, dan Dhiyassalam Imam MSi menyampaikan terkait bioekologi, ekowisata, dan perilaku wisatawan hiu paus. Diskusi interaktif yang diikuti lebih dari 50 orang dari mahasiswa, akademisi universitas, NGO dan KKP dipimpin oleh Ilham Marasabessy MSi yang merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Sorong sekaligus sebagai memprakarsai kegiatan ini dan berkerjasama dengan IPB University, Maritim Muda Nusantara, dan EcoNusa.

Dr Mukhlis menyampaikan 4 gagasan penting dalam riset lanjutan pada 2020-2025 yang perlu dilakukan. Pertama, mengingat hiu paus ditemukan di beberapa perairan seperti Probolinggo, Teluk Saleh, Talisayan, Botubarani, dan Teluk Cendrawasih; maka perlu kajian konektifitas nasional dan global. Kedua, asesmen daya dukung bagi pengembangan wisata. Ketiga, valuasi ekonomi antara konservasi dan wisata ramah lingkungan. Keempat, penyempurnaan POB (integrasi dengan aspek-aspek kesejahteraan hewan). Perwakilan KKP juga menambahkan bahwa status POB sedang digodok dan sangat dibutuhkan tambahan input data dan update data terkait aspek ekologi, biologi, ekonomi yang berkaitan dengan ekowisata hiu, sehingga peran akademisi sangat diharapkan dapat membantu. Di akhir sesi, Dr Mukhlis Kamal menekankan perlu riset aplikatif untuk memadukan antara Science-Policy-Economy sehingga tercapainya konservasi hiu paus melalui perlindungan habitat dan pariwisata pesisir berkelanjutan.