Paradigma pembangunan pesisir berbasis sumberdaya alam harus diintegrasikan dengan sosial sistem, yang kemudian memunculkan konsep Social-Ecology System (SES).  Walaupun bukan sebuah teori yang baru, namun dalam praktek tata kelola pesisir dan laut selama ini di Indonesia, pendekatan SES ini sangat sedikit mendapat porsi dalam praktek tata kelola pesisir dan laut. 

Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc

Adalah Dr Luky Adrianto M.Sc dari SESO Lab (Social-Ecology System of the Oceans) dari Divisi Manajemen Sumberdaya Perikanan, yang juga dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB mendorong penguatan literasi dan adaptasi social-ecology system dalam sains pengelolaan pesisir dan laut.  Bersama dengan Dr Suryo Kusumo dari JICA Expert on SDG-14 yang juga Research Fellow di SESO Lab memaparkan secara online tentang Frontiers in the Modelling of Social-Ecological Connectivity with Application to Coastal and Small Islands System.  SESO Series webinar yang dilaksanakan pada 23 April 2020 ini mendapat banyak perhatian dari saintis dan akademisi serta pelaku pengelola pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia. 

Dalam kesempatan ini Dr Suryo Kusumo memaparkan bahwa conectivity dapat dilihat dari resilience ekosistem sebagai komponen yang memberikan nilai dan jasa kepada masyarakat.  Atas jasa ekosistem itu, maka manusia dituntut berperan dalam menciptakan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan perlindungan.  Sehingga manusia menjadi bagian dari pengedalian keseimbangan tersebut.  Untuk meyakinkan bahwa pendekatan ini adaptive bagi pengelolaan pesisir, laut dan pulau kecil di Indonesia, Dr Suryo Kusumo melakukan pengujian di kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) Pulo Pasi Gusung.  Dari model yang dikembangkan ini diperoleh hasil yang memperlihatkan adanya keterkaitan antara praktek perikanan destruktif yang menggunakan bius dengan tradisional fishing.  Penurunan praktek-praktek perikanan yang merusak ternyata mampu mendorong peningkatan system usaha perikanan tradisional dengan memberikan minimal 2 manfaat yaitu 1, mampu memulihkan ekosistem, dan 2 mampu memberikan keberlanjutan sistem usaha perikanan dalam jangka panjang.  Dari sini terlihat bahwa sangat kuat peran dari SES dalam menentukan arahan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan, pesisir dan pulau-pulau kecil.

Keberadaan SES bagi penguatan sains pengelolaan pesisir dan laut serta pulau-pulau kecil dirasa perlu setidaknya karena 2 hal.  Pertama karena memang wilayah Indonesia adalah negara kepulauan dengan karakteristik sumberdaya pesisir dan laut yang sangat tinggi keragamannya.  Kedua setiap wilayah pulau-pulau kecil tersebut memiliki karakteristik social masyarakat yang beragam dan memiliki ikatan nilai-nilai social yang kuat dalam mengelola sumberdaya pesisir dan pulau kecil.

Kehadiran SESO LAB dengan SES Approach pada Divisi Manajemen Sumberdaya Perikanan penting dalam pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil karena tentunya akan memperkuat sains pengelolaan pesisir dan pulau kecil secara terpadu. Untuk itu kedepan SESO LAB dan Divisi Manajemen Sumberdaya Perikanan akan terus berbagai frontier dan advance sains untuk mengawal bagi pengembangan transdisiplin sains perikanan, pesisir, da pulau-pulau kecil di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University kedepannya.