Hingga saat ini, ekosistem lamun merupakan ekosistem yang belum mendapat perhatian yang besar. Hal ini disebabkan banyak faktor, baik karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi hingga kesan kotor, mungkin karena umumnya tumbuh dekat pemukiman dan berlumpur. Bahkan, di beberapa lokasi wisata dianggap mengganggu dan mengurangi nilai estetika pantai. Tak jarang ekosistem lamun sangat mudah untuk dirusak dan menjadi pilihan utama dalam kegiatan reklamasi pantai untuk pembangunan pemukiman dan infrastruktur publik. Padahal, ekosistem ini memiliki peran yang sangat penting, di antaranya adalah sebagai nursery ground dan feeding ground bagi biota yang hidup di terumbu karang, habitat dan tempat mencari makan beberapa hewan terancam punah (kuda laut, lola, penyu, dan duyung), penyerap karbon, pemerangkap sedimen, penstabil substrat, penjaga kejernihan air, peredam gelombang, dan juga menjadi sumber pendapatan bagi para nelayan tradisional, serta sumber pangan bagi masyarakat di sekitar ekosistem tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara sistem ekologi dan sistem sosial di ekosistem lamun.

SESO Labs mencoba memperkuat frontier riset terkait kesehatan ekosistem dan konservasi lamun melalui pendekatan social-ecological system (SES). Kegiatan yang mengambil tema Frontiers in Seagrass Social-Ecological System Analysis mendapat banyak perhatian dari peneliti, akademisi, serta pegiat dan aktivis lingkungan, baik dari Indonesia mapun luar negeri. Antusiasme ini menunjukkan bahwa minimnya diskusi-diskusi terkait ekosistem lamun, terlebih dalam perspektif SES.

Hadir sebagai pemantik diskusi pada kegiatan tersebut, Dr. Nurul Dhewani Mirah Sjafrie dari P2O LIPI, yang juga merupakan Research Fellow di SESO (Social-Ecology System of the Oceans) Labs. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, beliau menyampaikan bahwa hubungan antara ekosistem lamun dan manusia cenderung dianalisis secara kualitatif. Dari perspektif SES, ekosistem lamun dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, yaitu dengan membuat diagram yang menggambarkan hubungan antar komponen SES (sumber daya yang ada dalam ekosistem, pemanfaatnya, kelembagaan serta basis hukumnya). Sedangkan secara kuantitatif, yaitu dengan menghitung ketergantungan pemanfaat (dalam kasus ini adalah nelayan) dan intensitas penggunaan ekosistem lamun melalui pendekatan Human Appropriation of Net Primary Production (HANPP). Pendekatan HANPP diadopsi dari ekosistem teresterial berdimensi dua ke dalam ekosistem lamun berdimensi tiga, sehingga dilakukan beberapa penyesuaian. Nilai HANPP dan efisiensi yang diperoleh menggambarkan besarnya ketergantungan dan intensitas penggunaan lahan pada ekosistem tersebut, sehingga dapat dijadikan ‘alarm’ adanya eksploitasi berlebih. Hasil dari kedua pendekatan SES tadi dapat dijadikan masukan bagi para pemegang kepentingan untuk melakukan upaya pengelolaan ekosistem lamun.

Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc

Poin penting yang dapat ditangkap dalam diskusi pada hari Jum’at, 8 Mei 2020 tersebut, yaitu upaya penyadartahuan kepada semua pihak harus terus dilakukan, terutama terkait dengan jasa ekosistem lamun yang disediakan, baik secara ekologi maupun sosial. Untuk itu, nilai-nilai penting jasa ekosistem lamun tersebut harus dibuktikan secara ilmiah sehingga menjadi dasar pengambil keputusan dalam membuat kebijakan untuk konservasi yang juga relevan dengan SDG-14.2. Metodologi dan analisis penilaian juga penting untuk dikembangkan. Di akhir diskusi, Dr. Luky Adrianto dari SESO Labs, Devisi Manajemen Sumberdaya Perikanan, Departemen MSP, FPIK-IPB, sebagai host dan pengantar diskusi juga mengajak kita semua untuk tetap semangat dalam mengawal riset-riset terkait ekosistem lamun dengan pendekatan SES, sehingga mampu menjawab tantangan-tantangan yang ada ke depannya.